Tuesday, July 17, 2007

Menikmati Hidangan Alami


Anahata Restaurant

Sambil menikmati makanan, mata kita akan dimanja oleh hamparan hutan tropis dan lembah hijau yang masih terjaga kelestariannya.


Pulau Dewata tidak hanya menjanjikan keajaiban alam dan keindahan budaya saja, tetapi juga eksotisme seni kulinernya. Masakan dengan rasa khas yang dibungkus dengan suatu seni memasak yang berbeda, tentu akan mempunyai keistimewaan tersendiri. Apalagi kenikmatan dari makanan tersebut dipadukan dengan sebuah tempat yang tenang untuk merehatkan tubuh.

Dan paduan dua kenikmatan tersebut ada di Anahata Villas & Spa Resort. Yaitu sebuah penginapan sekaligus restoran dengan seni dan cita rasa masakan tradisonal Bali yang disajikan dengan wajah berbeda. Selain mengedepankan unsur rasa pada restorannya, tempat ini juga sangat memperhatikan estetika keseluruhannya. Nuansa back to nature yang menghiasnya diwujudkan dengan tidak mengubah elemen yang ada pada alam sama sekali.

Hal ini dimaksudkan untuk lebih memaksimalkan keindahan sumber daya tersebut. Seperti diungkapkan Dewa Gede Sudharsana, selaku executive Chef , “Kami hanya mengkombinasikannya sehingga unsur-unsur estetis yang menyatu dengan alam tersebut bisa dinikmati oleh para tamu,” ujarnya.

Anahata Villas & Spa Resort yang diambil dari bahasa sansekerta berarti: Cinta dan Kasih Sayang, beropersi sejak Nopember 2004 dengan mengusung visi natural retreat for mind body and soul. Dengan visi itu diharapkan tamu yang menginap atau datang akan mendapatkan sebuah keharmonisan antara jiwa, pikiran yang berpadu dengan keselarasan alam.

Selaras dengan konsep Anahata Resort, restonyapun tak mempunyai spesifikasi tertentu seperti: fusion atau cosy. Beragam hidangan dari tradisional sampai international, hingga vegetarian tersedia disini. ”Anahata restoran menyajikan makanan sehat dan alami serta makanan yang bercita rasa khas Bali. Uniknya, semua bahan makanan murni berasal dari alam sekitar yang mudah di dapat,” ujar Dewa. Adapun alasan resto ini mengutamakan konsep makanan tradisional Bali dengan menu sehat vegetaris, mengingat kebanyakan pengunjung atau tamu yang menginap adalah pe-yoga. “Kebanyakan dari mereka ini adalah vegetarian,” papar Dewa.

Tetapi di sisi lain upaya untuk menghadirkan menu khas Bali tersebut adalah untuk memperkenalkan sekaligus mensejajarkan makanan tradisonal Indonesia khususnya Bali dengan kuliner international. Apalagi penyajian dari masakan ini sangat mengedepankan unsur seni yang dibungkus oleh cita rasa yang tinggi. Menurut Dewa, ”Menu unik dari Anahata adalah Bebek goreng garing dan bebek betutu. Masakan khas Bali ini sendiri sangat jarang dihidangkan oleh restoran lain,” ujarnya.

Menu bebek goreng garing dan bebek betutu ini sendiri diolah secara khusus serta di sajikan dengan sambal tiga warna unik dengan rasa spesial. Disamping itu, menu andalan lainnya adalah banana spring roll, yaitu pisang goreng yang di modifiakasi menggunakan kulit lumpia berisi keju dan potongan coklat di dalamnnya. Penyajiannya disertai dengan dengan saus kiwi serta orange.

Melihat tanggapan yang sangat positif dari para tamu maka tidak heran jika restoran ini mengupayakan untuk terus menjaga kepercayaan pelanggannya tersebut. Untuk menjaga cita rasa dan mempertahankan kekhasan menu tersebut, Anahata Restoran telah menyetandarkan semua sisi penyajiannya. Mulai dari resep hingga cara pengolahannya. “Kami juga selalu uji coba secara berkala,” ujar Dewa.

Hasilnya setiap tamu yang berkunjung sangat antusias menikmati hidangan tersebut. Mereka pasti ingin kembali mencicipi bebek goreng garing spesial dengan sambal khusus tersebut. Bahkan beberapa tamu khusus datang untuk itu menu khusus spesial yang hanya ada di Anahata Restoran.

Monday, July 16, 2007

Kenikmatan Dari Sebuah Hobi


Soebronto Laras


Meski segudang kegiatan, bukan berarti tak melupakan gaya hidup sehat. Mengapa olahraga bersepeda menjadi arena pelepas stressnya?


Minggu pagi, irama kota Jakarta mengalun lebih tenang. Pun udara masih segar mengisi rongga pernafasan. Kepadatan, ketegangan, polusi udara dan kemacetan lalu lalang kendaraan bermotor di Jakarta, seolah rehat untuk sementara.

Di salah satu sudut kota jakarta, tepatnya di bilangan Monas (Monumen Nasional), suasana tampak ramai. Banyak warga Jakarta menikmati hari liburnya dengan berolahraga di arena ini. Salah satunya, Soebronto Laras. Dengan balutan busana lengkap olahraga bersepeda, Dirut. PT Indomobil ini tengah duduk di sebelah sepedanya.

Tetesan keringat peluh mulai membasahi keningnya. Pembakaran energi usai dilakukannya dari tempat tinggalnya menuju halte di depan kantor Gubernur DKI menjadi lokasi berkumpul komunitas sepeda yang dipimpinnya. “Anggota yang datang belum banyak kalau sudah berkumpul semua, jumlahnya bisa empat ratusan orang,” ujarnya.

Bagi Soebronto, bersepeda bukan hobi baru. Sejak kecil dia sudah mengakrabi benda satu ini. Tapi kesenangannya ini sempat lama tak disentuhnya karena harus hijrah ke Inggris. Baru setelah kembali dari perantauannya, lulusan Paisley College dan London College, Inggris ini kembali intens mengayuh sepeda tahun 1971. “Waktu di Inggris susah sekali main sepeda,” ujar eksekutif yang juga akrab disapa Yonto ini.

Pada awalnya, pria kelahiran 5 Oktober 1943 ini hanya sendirian meluncur diatas roda dua. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, mulai bermunculan beberapa orang yang mempunyai hobi serupa dengan dirinya. Diakui Soebronto, “Puncak antusiasme masyarakat terhadap hobi bersepeda saat fenomena fun bike mulai merebak,” katanya.



Melihat tingginya animo masyarakat terhadap olahraga bersepeda ini, Soebronto dan teman-temannya berinisiatif membentuk klub Jakarta Cycling Club (JCC). Menurut Soebronto lewat klub sepeda yang dipimpinnya ini, selain berolahraga juga dijikan arena gaul dengan seluruh lapisan masyarakat. “Diantara anggota kita ini ada yang atlet, cuma sekadar main-main, atau benar-benar hobi. Mereka ini tentu kemampuannya berbeda-beda. Ada yang mampu membeli sepeda mahal ada yang tidak. Tapi kita semua bisa menyatu disini,” ujarnya.

Ketika bersepeda ke kantor (Bike to Work) belum dikenal seperti sekarang ini, Soebronto justru telah lama melakukannya. Setiap pagi seusai sholat subuh eksekutif yang juga pengurus PB PELTI ini selalu membiasakan bersepeda sepanjang lima puluh sampai enam puluh kilometer sebelum menuju tempat kerjanya. “Begitu sampai kantor, saya langsung mandi sebelum beraktivitas. Jadinya badan lebih segar” ujar lelaki yang seminggu sekali melakukan Bike to Work.

Bersepeda selain mengurangi polusi, juga menyehatkan. Bagi Soebronto, sepeda merupakan alat transportasi unik, menyehatkan sekaligus dapat menjangkau kemana saja. Dan sebagai sarana olah raga, bersepeda menurutnya jauh lebih efisien dibandingkan lari. Apalagi olahraga ini bisa dilakukan oleh semua umur dari anak-anak sampai lanjut usia.

“Setelah berolaharaga sepeda, upaya recovery dari penyakit jantung saya bisa berjalan lebih cepat,” ujarnya sungguh-sungguh. Hal ini kemudian dijadikannya pijakan untuk terus “bermain” dengan sepedanya. Bahkan “terapi” bersepeda ini juga diterapkan kepada salah satu rekan dan staff dealernya yang berusia 70 tahun. “Teman saya ini Bapak Yusuf. Baru berolahraga sebentar saja, sudah pingsan. Pelan-pelan saya ajak ia naik sepeda. Sekarang ini kondisi kesehatannya menjadi lebih baik,” katanya bangga.


Segudang Jabatan


Ketika mengayuh sepeda, Soebronto Laras mengaku tak selalu menemukan jalan mulus. Terkadang ia dituntut melewati trek terjal, berkelok, naik dan turun. Pun begitu dengan perjalanan karirnya. Sebelum mencapai posisi seperti sekarang ini, beragam tantangan sedikit demi sedikit ia tapaki.

Sebelum menjadi Dirut PT Indohero Steel & Engineering Co., dan PT Indo Mobil Utama (perakit motor dan mobil Suzuki), Soebronto memang telah dibesarkan oleh lingkungan yang sangat kental dengan nuansa otomotif. Ayahnya, R. Moerdowo (almarhum) merupakan importir mobil beberapa merk. Seperti: Citroen, Tempo dan Combi, semenjak tahun 1949.

Anak kedua dari empat bersaudara ini sempat memperdalam ilmu rekayasa mesin di Paisley College for Technology, Inggris dan ilmu bisnis di Paisley College for Technology. Sepulangnya dari Inggris ia bekerja di PT First Chemical Industry, yang bergerak dalam bidang formika, alat-alat plastik, dan perakitan kalkulator.

Karir Soebronto terus menanjak dan selalu menempati posisi penting di beberapa perusahaan. Antara lain: PT. Indomobil Niaga International, PT National Motors Co, dan PT. Unicor Mutiara Motor, Direktur Utama PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk, yang merupakan perusahaan induk dari perusahaan-perusahaan dalam naungan Indomobil Group, Komisaris Utama PT Primus Financial Services dan Komisaris PT. Sumi Rubber Indonesia.


Majalah Prioritas 17

Cangkir Kecil Yang Ingin Bercerita


Yuni Shara


Kehadirannya mampu memberi panorama berbeda pada ranah musik sekaligus pengisi deretan nama selebritas tanah air yang populis. Ketika dia bercerita dengan musiknya itu biasa tetapi bagaimana saat Yuni merepresentasikan dirinya lewat sebuah buku.


Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan untuk mendamaikan hati yang gundah, terapi rekreatif bahkan bisa menumbuhkan jiwa patriotisme. Rangkaian dari tiap-tiap nadanya terkadang lebih bisa bercerita ketimbang kalimat terpanjang yang pernah disusun seseorang. Namun ada kalanya musik hanya bunyi kosong dan hampa belaka saat diwujudkan tanpa hadirnya sebuah jiwa. Memang dibutuhkan sosok dengan level tertentu agar bisa membawa musik dan lagu tersebut lebih punya rasa. Dan Yuni Shara bisa melakukannya.
Nama lengkapnya Wahyu Setyaning Budi, sosok imut yang bisa menempatkan kepopulerannya dengan interprestasi berwarna di benak masing-masing masyarakat. Orang-orang diberi ruang untuk mengenalnya dengan “wajah” beragam. Entah sebagi kakak dari seorang diva pop terkenal, istri pengusaha, pelantun tembang melankolis tempo dulu, pemilik suara lembut sampai sosok penyanyi bertubuh mungil. Tapi diantara semua “berkah” tersebut dia tetap menonjol sebagai seorang penyanyi berkualitas yang hangat menyapa siapa saja.

Kehangatan itu pun terasa saat dirinya menceritakan ihwal buku dan album barunya guna menandai tetapak perjalanan usianya yang ke 35, Yuni. ”Judul albumnya Yuni Shara 35, dan untuk bukunya 35 Cangkir Kopi Yuni Shara,” paparnya diiringi tawa kecil. Akibatnya Yuni kini dihadapkan pada sebuah rutinitas baru yaitu sibuk berpromosi. “Bahkan dalam waktu dekat ini kita akan ke Malaysia,” tandasnya lagi.

Di album barunya Yuni meminta campur tangan gitaris Tohpati untuk mengaransemen musiknya sekaligus memberikan nuansa baru. Musisi lain yang juga terlibat adalah Melly Goeslaw dengan lagu ciptaannya berjudul SEPI. Sebuah lagu yang bertutur tentang kesedihan Yuni, tepatnya saat sang suami tercinta tengah mengalami cobaan besar.
Sedangkan untuk buku, Yuni dibantu oleh Tamara Geraldine yang berkolaborasi dengan Darwis Triadi.

Konteks untuk mencapai titik keberhasilan bagi masing-masing orang tentu berbeda, baik dari sisi pemaknaan maupun kenyataan. Pun sama halnya dengan Yuni dalam meretas jalan suksesnya. Diapun harus menyusuri lorong panjang permainan hidup yang terkadang tersenyum sinis atau manis terhadap dirinya. Tak berlebihan jika idiom cangkir digunakan untuk merefleksikan seorang Yuni dalam bermetamorfosis menjadi perempuan matang. Karena untuk membuat cangkir diperlukan tempaan dan pemanasan tinggi sebelum bersinar dan memiliki tampilan bagus. ”Dan itu sedikit banyak menggambarkan perjalanan hidup saya, yang sering menerima pengalaman pahit dan berat,” ujar ibu muda ini.

Abstraksi cangkir sendiri menurut Yuni adalah benda yang tidak perlu dipegang dengan keseluruhan tangan, tapi cukup usefull dalam mengusung tetes air kesejukan. “Kita cukup menggunakan dua jari kita saja untuk minum dari cangkir,” ujar perempuan kelahiran 3 Juni 1972 ini. Adapun sosok Yuni memang selalu bisa memberi kedamaian kepada teman-temannya. Menurut Tamara, Yuni tak pernah lelah meluangkan waktu sempitnya untuk teman dan saudaranya. Meski ada kalanya kerapuhan juga datang mendera.

Setidaknya gambaran itu terlihat saat Yuni membuka tirai kesedihannya dalam susunan kalimat sendu yang dia tulis di bukunya,” “Sebenarnya jenis perempuan macam apa aku ini tidak menjerit di kala sakit, tidak bergerak di kala memang waktunya harus pindah. Aku sebenarnya sudah sering menjerit tapi hanya di dalam hati, sampai aku sendiripun gak pernah denger suara hatiku sendiri.”

Di tengah sekian banyak gundukan asa pada album dan buku barunya, ada juga harapan sederhana,” Anak-anak saya baru latihan membaca jadi buku ini bisa jadi media untuk belajar.” Sepucuk keinginan sederhana dari seorang Bunda laiknya kebanyakan kaum ibu. Hal ini kian menandaskan bahwa menyandang predikat sebagai orang terkenal tak membuat Yuni terus mengawang. Sesekali dia ingin menjadi manusia biasa. Sejenak rehat dalam lelap, mendekap erat cinta Cello Obient Siahaan Cavin dan Obrient Salomon dua permata hatinya.

Bye..Bye... Catwalk


Larasati Gading


Tak hanya karpet catwalk Indonesia yang pernah dicicipinya. Pendar-pendar lampu panggung Eropa pun pernah dirasakannya. Tapi baginya semua itu hanya nukilan masa lalu yang tak ingin lagi ditapakinya. Kenapa?


Ketika media hiburan tengah dikepung euforia kebebasan, imbas pun harus diterima oleh kaum seleberitis di negeri ini. Tak ada lagi ruang privasi bagi mereka. Sorot kamera hampir tak ada jeda menyisir setiap sudut kehidupan figur-figur publik. Hingga terkadang menjurus ke wilayah “teritorial” yang tak selayaknya menjadi konsumsi publik.

Pun demikian dengan Larasati I.R. Gading. Wanita yang akrab disapa Larasati ini pernah merasakan ketidaknyamanan serupa dan menjadi obyek pemberitaan. “Saya paling sebel kalau dibilang artis,” ujar Ibu dari Alyssa Pratieswari, Melisa Maharani, dan Laetisha Maheswari ini, menimpali pertanyaan bagaimana “beratnya” menyandang status artis dalam kesehariannya.

Menurut wanita kelahiran Stuttgart, 14 November 1971 ini, artis adalah orang-orang yang bekerja dalam sebuah lingkup kesenian. Dan dia merasa profesinya sama sekali tidak menyentuh area tersebut. “Artis itu kan asal katanya dari art (seni). Jadi pada dasarnya tidak sembarangan orang mendapatkan predikat tersebut,” ungkapnya.

Bak kehilangan konteksnya “embel-embel” artis kini begitu mudah menempel pada diri seseorang. “Sekarang orang sekali main sinetron atau difoto, sudah bisa dibilang artis,” ujarnya menanggapi maraknya fenomena selebritas “instan”.

Dan menurut Larasati, esensi seni membutuhkan interprestasi untuk memahaminya. Laras sendiri begitu tinggi mengapresiasi seni. “Saya menguasai banyak sekali seni tari tradisional Indonesia,” paparnya. Baginya, seni mampu mengisi relung-relung emosi manusia hingga ke sisi terdalam.“Seni itu seperti bumbu yang membuat hidup ini lebih terasa nikmat,” ujar pemilik tinggi 175 ini.

Dalam zona nyamannya, saat ini Laras lebih tenang merenda harinya. Wanita yang fasih berbahasa Jerman, Inggris, Perancis, Italia, dan Belanda ini, kian mantap melangkah di profesi yang jauh dari hingar bingar kamera. “Saya sekarang atlet dan bukan model lagi,” ujarnya mantap. Apalagi kata Larasati, kini intensitasnya mendalami olahraga berkuda berbuah rangakaian prestasi. “Ketika sebuah prestasi dihargai, ada sebuah kebanggan sekaligus tantangan. Apalagi setelah saya masuk tim Sea Games 2001, tanggung jawabnya semakin besar,“ ujar Laras.

Dalam catatan prestasinya, pengurus PB Pordasi ini pernah meraih medali Perunggu di Sea Games 2001 dan PON 2004. Ditambah beberapa kali menjuarai World Trace Challennge untuk Asia Tenggara dan Rusia. Dalam menjalani karirnya sebagai model, pemegang prinsip hidup “Santai Saja” ini sudah merasa pada titik paling nadir.

Warna-warni dunia model tak lagi menarik bagi pemilik kuda bernama Nikolaus. Keputusan untuk menjauhi dunia yang pernah membesarkan namanya ini dirasa sangat tepat . “Saya berhenti menjadi model sejak tahun 1997,” katanya. Bagi Larasati, saat ini tak sedikitpun terbersit untuk kembali ke dunia catwalk.

Ya, setelah menoreh tinta emas di dunia model, Laras punya satu obsesi yang ingin diwujudkannya. “Saya ingin menyumbangkan sebuah kepingan emas untuk Indoneisa nantinya,” katanya mantap.